Inggris Pertimbangkan Banding Kartu Merah Quansah, “Kasus Balogun” Jadi Acuan
Timnas Inggris tengah mempertimbangkan langkah banding ke FIFA terkait kartu merah yang diterima Jarell Quansah jelang laga perempat final Piala Dunia melawan Norwegia. Wacana ini muncul setelah keputusan kontroversial FIFA yang sebelumnya mencabut skorsing penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.
Sejumlah media Inggris melaporkan bahwa Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sedang mengkaji peluang mengajukan banding atas hukuman yang menimpa Quansah. Bek berusia 23 tahun itu mendapat kartu merah saat Inggris menyingkirkan Meksiko di babak 16 besar setelah melakukan tekel keras terhadap Jesus Gallardo.
Dalam insiden tersebut, wasit asal Iran, Alireza Faghani, sempat membiarkan permainan berlanjut. Namun, VAR kemudian memintanya meninjau ulang kejadian itu. Setelah melihat tayangan ulang, Faghani langsung mengusir Quansah dari lapangan.
Sesuai regulasi FIFA, kartu merah itu seharusnya membuat Quansah absen minimal satu pertandingan. Jika melihat kerasnya tekel yang ia lakukan dalam kecepatan tinggi, hukuman dua laga pun sebenarnya masih masuk akal. Namun, situasi berubah setelah FIFA lebih dulu membuat keputusan kontroversial dalam kasus Balogun.

Kasus Balogun Buka Polemik Baru
FIFA sebelumnya mencabut skorsing Folarin Balogun, yang semula muncul akibat kartu merah saat Amerika Serikat menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Keputusan itu membuat Balogun tetap bisa tampil pada laga babak 16 besar melawan Belgia.
Langkah FIFA itu memicu protes besar karena banyak pihak menilai badan sepak bola dunia tersebut gagal menjaga konsistensi penegakan aturan. Polemik makin panas setelah muncul kabar soal percakapan telepon antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino. Meski kedua pihak mengakui adanya komunikasi, Infantino membantah bahwa pihak luar ikut memengaruhi keputusan Komisi Disiplin FIFA.
Meski begitu, banyak media dan pengamat tetap menilai kasus Balogun telah menciptakan preseden berbahaya. Jika FIFA bisa membatalkan hukuman kartu merah dalam kasus tertentu, maka federasi lain tentu punya alasan untuk menuntut perlakuan yang sama.

Inggris Bisa Gunakan Preseden yang Sama
Karena itulah, Inggris kini mulai mempertimbangkan jalur banding untuk kasus Quansah. Jika FA memakai “Kasus Balogun” sebagai acuan, FIFA bisa saja membatalkan hukuman Quansah atau setidaknya menangguhkannya.
Keputusan itu akan sangat penting bagi Inggris yang sedang menyiapkan diri menghadapi Norwegia di perempat final. Jika Quansah harus menjalani skorsing, Thomas Tuchel mau tak mau perlu merombak lini belakangnya. Dalam laga melawan Meksiko, Tuchel menempatkan pemain Bayer Leverkusen itu sebagai bek kanan darurat karena Reece James mengalami cedera.
Jika James belum pulih tepat waktu, Tuchel kemungkinan akan kembali menurunkan Djed Spence di sisi kanan pertahanan. Namun, opsi itu juga belum sepenuhnya meyakinkan. Spence memang sempat membantu di posisi tersebut saat Inggris menghadapi Panama dan Republik Demokratik Kongo, tetapi penampilannya—terutama saat melawan Kongo—terlihat belum stabil dan beberapa kali kewalahan menghadapi tekanan lawan.

Tuchel Kritik Konsistensi FIFA
Thomas Tuchel menjadi salah satu sosok yang paling keras mengkritik keputusan FIFA dalam kasus Balogun. Menurut pelatih Inggris itu, pembatalan hukuman Balogun memunculkan pertanyaan besar soal konsistensi dan independensi proses disipliner.
“Tiga orang dari VAR dan wasit telah memeriksanya dan berpendapat bahwa itu layak mendapat kartu merah. Jadi, sebuah keputusan telah diambil. Lalu siapa yang membatalkan keputusan ini—dan kapan? Dan atas dasar apa? Sejauh mana hal ini akan berlanjut?” kata Tuchel.
Tuchel menegaskan bahwa timnya hanya menuntut konsistensi dalam penerapan aturan. Ia mempertanyakan batas proses banding jika keputusan di lapangan bisa terus berubah setelah pertandingan berakhir.
“Bagi saya, ini sungguh aneh. Kami hanya ingin ada konsistensi dalam pengambilan keputusan. Apakah sekarang kita harus mengajukan banding jika sebuah kartu kuning ternyata bukan kartu kuning? Kita bisa berdebat tanpa henti. Dari mana ini dimulai dan di mana berakhir?” lanjutnya.
Inggris Menanti Sikap FIFA
Kini Inggris berada dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, tekel Quansah memang terlihat keras sehingga kartu merah itu sulit dibantah. Namun di sisi lain, keputusan FIFA dalam kasus Balogun sudah membuka ruang perdebatan baru soal keadilan dan konsistensi hukuman.
Jika FA benar-benar mengajukan banding, FIFA kembali akan menghadapi sorotan tajam. Apa pun keputusan yang diambil nanti berpotensi memunculkan kontroversi baru, baik karena dianggap tidak konsisten maupun karena dinilai memberi perlakuan berbeda kepada tim tertentu.
Jelang duel penting melawan Norwegia, Inggris kini bukan hanya menyiapkan strategi di lapangan, tetapi juga membuka kemungkinan pertarungan administratif di luar lapangan demi menjaga peluang tampil dengan kekuatan terbaik.
SITUS PREDIKSI PARLAY MALAM INI
Selain prediksi parlay malam ini kita juta menyediakan termpat bermain paling aman dan terpercaya hanya di WAJIKWIN
