Maroko vs Prancis di Perempat Final Piala Dunia 2026: Permainan Pasif Jadi Penyebab Kekalahan
Timnas Maroko kembali gagal melewati hadangan Prancis di Piala Dunia. Singa Atlas tumbang dengan skor 0-2 pada babak perempat final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Gillette Stadium, Boston, Jumat (10/7/2027).
Hasil tersebut mengulang cerita Piala Dunia 2022. Saat itu, Prancis juga menghentikan langkah Maroko pada babak semifinal. Namun, kekalahan kali ini memunculkan sorotan berbeda karena Maroko tampil jauh dari performa terbaiknya.
Publik berharap Maroko mampu membalas kekalahan empat tahun lalu. Sebaliknya, tim asuhan Mohamed Ouahbi justru kesulitan memberikan tekanan kepada Prancis sepanjang pertandingan.
Statistik pertandingan memperlihatkan betapa tumpulnya lini serang Maroko. Singa Atlas baru mencatatkan tembakan tepat sasaran pertama pada menit ke-83. Catatan tersebut menunjukkan minimnya ancaman yang mereka berikan kepada pertahanan Prancis.
Di sisi lain, Yassine Bono beberapa kali melakukan penyelamatan penting. Kiper berpengalaman itu menjaga peluang Maroko tetap hidup selama sekitar satu jam pertandingan. Namun, penyelamatan Bono tidak cukup untuk menghindarkan timnya dari kekalahan.
Update Prediksi mix parlay malam ini yang kita ambil dari pasaran SBOBET situs WAJIKWIN.
Prediksi parlay malam ini di susun oleh tim ahli WAJIKWIN berdasarkan historis dan performa terkini setiap klub.
Join grup telegram @prediksiparlaywajik agar tidak ketinggalan update prediksi parlay akurat dan jitu malam ini.
Permainan Pasif Membuat Maroko Sulit Mengancam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293110/original/082919800_1783673488-maroko.jpg)
Maroko tampil disiplin saat bertahan. Para pemain mampu menutup ruang antarlini dan menjalankan strategi yang disiapkan Mohamed Ouahbi.
Sayangnya, permainan berubah ketika mereka menguasai bola. Para pemain lebih sering memainkan operan di area sendiri daripada membangun serangan ke depan. Akibatnya, Prancis bisa mengontrol jalannya pertandingan tanpa tekanan berarti.
Data pertandingan memperkuat kondisi tersebut.
- Expected Goals (xG): 0,22.
- Delapan sentuhan di kotak penalti lawan.
- Sebanyak 62,6 persen operan dilakukan di area pertahanan sendiri.
Angka-angka itu memperlihatkan bahwa Maroko bermain terlalu berhati-hati. Tim juga kehilangan keberanian untuk menyerang ketika ruang mulai terbuka.
Mantan pemain Timnas Maroko, Jaouad Zaïri, turut mengkritik penampilan tersebut.
“Mereka telah membiasakan kita dengan sesuatu yang berbeda, sepak bola yang indah, transisi yang cepat. Mereka biasanya menciptakan banyak peluang di setiap pertandingan.”
“Sedangkan di laga ini, seolah-olah mereka menolak untuk bermain. Mereka hanya bertahan dan terus memutar bola di area sendiri. Saya lebih suka Maroko yang berani menyerang. Anda boleh kalah, tetapi dengan cara terbaik dan tanpa penyesalan.”
Komentar itu menggambarkan kekecewaan banyak pendukung Maroko. Mereka menilai Singa Atlas kehilangan identitas permainan menyerang yang selama ini menjadi kekuatan utama.
Prancis Menghukum Setiap Kesalahan Maroko
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292623/original/076876700_1783638051-fran5.jpg)
Maroko sebenarnya sempat menjaga organisasi permainan dengan baik. Namun, Prancis langsung memanfaatkan setiap celah yang muncul.
Noussair Mazraoui melakukan pelanggaran yang berujung penalti setelah Prancis melancarkan serangan balik cepat. Beruntung bagi Maroko, Yassine Bono berhasil menggagalkan eksekusi tersebut.
Meski begitu, tekanan Prancis tidak berhenti. Les Bleus akhirnya mencetak dua gol melalui situasi transisi cepat pada babak kedua. Maroko gagal mengantisipasi perubahan tempo permainan lawan sehingga harus kebobolan dua kali.
Efektivitas Prancis menjadi pembeda dalam pertandingan ini. Mereka tidak membutuhkan banyak peluang untuk mencetak gol.
Kedalaman Skuad Maroko Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292624/original/016468500_1783638052-fran2.jpg)
Maroko juga menghadapi masalah di lini depan. Ismael Saibari tidak bisa bermain karena cedera. Sementara itu, Soufiane Rahimi memulai pertandingan dari bangku cadangan.
Kondisi tersebut membuat Mohamed Ouahbi tidak memiliki penyerang tengah murni sejak menit awal.
Chemseddine Talbi, Bilal El Khannouss, Azzedine Ounahi, dan Brahim Diaz bergantian mengisi posisi tersebut. Namun, pergantian posisi itu tidak mampu meningkatkan daya gedor tim.
Setelah Rahimi masuk, permainan Maroko memang sedikit membaik. Sayangnya, waktu yang tersisa tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan.
Mohamed Ouahbi Akui Maroko Butuh Kedalaman Skuad
Mohamed Ouahbi mengakui bahwa timnya membutuhkan lebih banyak pilihan pemain. Menurutnya, Maroko harus memiliki pelapis yang mampu menjaga kualitas permainan ketika pemain inti mengalami cedera atau tidak berada dalam kondisi terbaik.
“Kami perlu memperkuat fondasi tim dan memastikan bahwa, ketika ada pemain yang cedera atau tidak dalam kondisi bugar sepenuhnya, kami memiliki pilihan pemain yang lebih luas untuk dipanggil.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelatih sudah memahami kelemahan timnya. Evaluasi itu juga menjadi modal penting untuk menghadapi turnamen berikutnya.
Maroko Harus Bangkit Menuju Piala Afrika 2027
Kekalahan dari Prancis memang mengakhiri perjalanan Maroko di Piala Dunia 2026. Namun, Singa Atlas masih memiliki kesempatan untuk berkembang.
Piala Afrika 2027 akan menjadi ajang pembuktian berikutnya. Setelah itu, Maroko juga akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.
Karena itu, Maroko perlu memperbaiki dua aspek utama. Tim harus menambah kedalaman skuad sekaligus mengembalikan gaya bermain menyerang yang selama ini menjadi identitas mereka.
Jika mampu melakukan pembenahan tersebut, Maroko berpeluang kembali bersaing dengan tim-tim elite dunia pada turnamen berikutnya.
SITUS PREDIKSI PARLAY MALAM INI
Selain prediksi parlay malam ini kita juta menyediakan termpat bermain paling aman dan terpercaya hanya di WAJIKWIN
